Transformasi Besar Di Depok: Kawasan Stasiun Depok Baru Bakal Ditata Ulang untuk Kenyamanan dan Inklusivitas
Diskusi Tasikmalaya– Bagi puluhan ribu warga Depok dan sekitarnya yang menggantungkan mobilitas hariannya pada Kereta Rel Listrik (KRL), Stasiun Depok Baru (Stadebar) adalah jantung transportasi. Namun, selama ini, denyut nadi itu seringkali terasa tidak nyaman, tidak aman, dan penuh tantangan. Kabar gembira pun datang: Pemerintah Kota (Pemkot) Depok, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 1 Jakarta, dan Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Jakarta secara resmi bersepakat untuk melakukan penataan ulang besar-besaran pada kawasan stasiun tersebut.
Kesepakatan bersejarah ini dicapai dalam sebuah pertemuan pada Selasa (26/8/2025), yang menandai babak baru dalam komitmen bersama untuk menciptakan simpul transportasi yang tidak hanya berfungsi, tetapi juga manusiawi, nyaman, dan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat.
Mengurai Benang Kusut Permasalahan Stadebar
Apa yang selama ini dirasakan oleh para komuter bukanlah isapan jempol belaka. Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, yang mengaku juga sebagai pengguna KRL, menyoroti langsung masalah-masalah konkret yang dihadapi setiap hari.
“Area Stasiun Depok Baru jalannya becek, sering tergenang banjir, dan berlubang. Malam hari juga kurang penerangan sehingga terasa rawan dan membahayakan,” ujar Chandra dalam keterangannya, Rabu (27/8/2025). Kondisi ini bukan hanya soal ketidaknyamanan, melainkan telah menyentuh ranah keselamatan publik. Genangan air dan jalan berlubang menjadi ancaman bagi pejalan kaki, pengendara sepeda motor, dan penumpang yang bergegas.

Baca Juga: Pemerintah Kota Depok Gelar Job Fair Kedua Akhir 2025 Tekan Pengangguran
Namun, masalah terbesar yang mendapat sorotan tajam adalah ketidakramahan terhadap penyandang disabilitas dan lanjut usia (lansia). Chandra memberikan contoh nyata: “Misalnya untuk menyeberang dari timur ke barat masih harus lewat bawah, dan itu belum ramah bagi disabilitas maupun lansia.”
Akses bawah tanah yang dimaksud seringkali sempit, gelap, dan tentu saja tidak memiliki fasilitas pendukung seperti ramp atau lift, menyulitkan pengguna kursi roda, tuna netra, atau lansia dengan mobilitas terbatas. Hal ini bertentangan dengan semangat inklusivitas yang seharusnya menjadi standar fasilitas publik di era modern.
Selain itu, kekacauan dalam hal parkir kendaraan dan lalu lintas angkutan kota (angkot) yang tidak tertib semakin menambah kesan semrawut di kawasan stasiun. “Intinya, penataan ini bukan hanya mempercantik tampilan, tapi benar-benar menghadirkan kenyamanan bagi warga Depok yang setiap hari menggunakan stasiun ini,” tegas Chandra.
Sinergi Tiga Pilar Kunci: Pemkot, Operator, dan Pemilik Lahan
Keunikan dan sekaligus kekuatan dari rencana penataan ini terletak pada kolaborasi tiga institusi penting yang memiliki kepentingan dan tanggung jawab masing-masing.
-
Pemkot Depok: Bertindak sebagai representasi kebutuhan warga dan pemegang otoritas pembangunan infrastruktur jalan umum, drainase, dan penataan kawasan. Pemkot siap memperbaiki jalan-jalan berlubang dan mengatasi masalah genangan air.
-
PT KAI Daop 1 Jakarta: Sebagai operator stasiun dan layanan kereta, KAI memahami betul dinamika operasional dan kebutuhan pengguna. Executive Vice President KAI Daop 1 Jakarta, Yuskal Setiawan, menyatakan kesiapan berkolaborasi. “Saya minta kepada KCI untuk membantu menambah lampu penerangan di sekitar stasiun agar tidak terlihat gelap, mengingat pengguna di sini mencapai puluhan ribu orang per hari,” imbuhnya. Ini menunjukkan respons langsung terhadap keluhan keamanan di malam hari.
-
Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Jakarta: Pihak inilah yang memegang kunci utama dari potensi pengembangan. Sebagai perwakilan dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJBA), BTP adalah pemilik lahan seluas sekitar 7 hektar di sekitar Stasiun Depok Baru. Luasan lahan yang sangat signifikan ini membuka peluang besar untuk penataan yang holistik, bukan sekadar tambal sulam. “Dengan luas lahan yang ada, tentu potensi pengembangan kawasan stasiun cukup besar. Karena itu kita perlu duduk bersama agar penataan berjalan optimal dan tidak parsial,” kata perwakilan BTP.
Kolaborasi segitiga ini sangat krusial untuk memastikan bahwa pembangunan tidak terhambat oleh ego sektoral dan dapat terintegrasi dengan baik.
Melihat Langsung ke Lapangan: Komitmen yang Nyata
Sebagai bentuk keseriusan, tidak lama setelah pertemuan, seluruh jajaran dari ketiga instansi tersebut melakukan peninjauan langsung ke lapangan. Mereka tidak hanya melihat kondisi Stasiun Depok Baru, tetapi juga berkunjung ke Stasiun Pondok Cina. Langkah ini menunjukkan bahwa pemikiran mereka sudah melampaui satu titik dan mulai melihat integrasi antar-stasiun dalam koridor yang sama, guna menciptakan pengalaman berkomuter yang seamless (tanpa hambatan).
Mimpi Besar untuk Stadebar Masa Depan: Seperti Apa Wujudnya?
Meski detail teknis rencana masterplan masih akan dirumuskan, dari pernyataan para pihak dapat dibayangkan arah transformasinya:
-
Aksesibilitas Universal: Ini akan menjadi prioritas utama. Penggantian atau penambahan jembatan penyeberangan orang (JPO) yang dilengkapi dengan lift dan tangga ramp adalah sebuah keniscayaan. Trotoar yang luas dan permukaan tanah yang rata akan memudahkan pergerakan semua orang.
-
Infrastruktur yang Aman dan Nyaman: Penerangan yang terang benderang di seluruh area, mulai dari pelataran parkir, jalur pejalan kaki, hingga akses masuk stasiun. Perbaikan drainase total untuk mengakhiri kisah becek dan banjir genangan. Jalan yang mulus dan tidak berlubang.
-
Penataan Parkir dan Transportasi Terintegrasi: Pembenahan zona parkir yang tertib, mungkin dengan sistem parkir bertingkat untuk mengoptimalkan lahan. Penataan halte angkot yang lebih rapi sehingga tidak menimbulkan kemacetan dan memudahkan penumpang untuk berpindah moda.
-
Pengembangan Kawasan Berbasis Transit (TOD): Dengan luas lahan 7 hektar milik BTP, potensi penerapan Transit-Oriented Development (TOD) sangat besar. Kawasan sekitar stasiun tidak hanya menjadi tempat naik-turun penumpang, tetapi bisa berkembang menjadi area komersial yang dinamis dengan pertokoan, food court, ruang publik terbuka, atau bahkan area hijau yang menyejukkan. Hal ini akan meningkatkan nilai ekonomi kawasan dan memberikan lebih banyak kemudahan bagi para komuter.
Sebuah Langkah Menuju Kota Modern yang Manusiawi
Penataan ulang Kawasan Stasiun Depok Baru adalah lebih dari sekadar proyek fisik. Ini adalah pernyataan politik bahwa kota harus dibangun untuk semua orang. Ini adalah pengakuan bahwa hak untuk bermobilitas dengan aman dan nyaman adalah hak semua warga, tanpa terkecuali, termasuk disabilitas dan lansia.
Jika diimplementasikan dengan baik, kolaborasi antara Pemkot Depok, KAI, dan BTP ini tidak hanya akan mentransformasi wajah Stadebar, tetapi juga menjadi benchmark atau tolok ukur bagi penataan stasiun-stasiun lain di Indonesia. Harapannya, Stasiun Depok Baru akan segera berubah dari simbol kesemrawutan menjadi kebanggaan warga Depok, sebuah gerbang transportasi yang mencerminkan kota yang maju, inklusif, dan berhati untuk warganya.





