, ,

Denyut Nadi Di Simpang Tiga Memperpanjang Usia Jejak Langkah Manusia

Jahitan Kehidupan di Trotoar Tasikmalaya: Melestarikan Seni Perbaikan Sepatu di Era ‘Buang-buang Saja’

Diskusi Tasikmalaya- Di simpang tiga yang sibuk, persis di luar Pasar Lama Sukawarni, Kecamatan Cihideung, denyut nadi waktu berdetak dengan irama yang berbeda. Di balik hiruk-pikuk lalu lintas dan deru kendaraan, terdapat sebuah galeri hidup dari ketekunan dan keahlian. Di sini, di trotoar yang sempit, sekelompok orang dengan tangan berdebu dan penuh cerita menjalankan sebuah misi sederhana namun mulia: memperpanjang usia benda yang paling setia menemani langkah manusia—sepatu.

Denyut Nadi Di Simpang Tiga Memperpanjang Usia Jejak Langkah Manusia
Denyut Nadi Di Simpang Tiga Memperpanjang Usia Jejak Langkah Manusia

Baca Juga : Polda Jabar Ungkap Jaringan Anarkis di Balik Pembakaran Pos Polisi Gentong Tasikmalaya

Inilah kawasan legendaris Tukang Sol Sepatu Sukawarni, sebuah benteng terakhir yang tegak berdiri melawan gelombang konsumerisme yang semakin menggila. Bagi warga Tasikmalaya, tempat ini bukan sekadar tempat memperbaiki alas kaki, melainkan sebuah living monument, tempat kenangan dan sol sepatu dirajut kembali.

“Kalau Jakarta punya Poncol, Bandung punya Cikudapateuh, maka kebanggaan Tasikmalaya ada di Pertigaan Sukawarni ini. Inilah markas besar kami,” ujar Didin Kumis (64), sambil tangannya lincah memukul-mukul telapak sepatu dengan palu kecil. Sebagai tukang sol senior yang berkecimpung sejak awal 1980-an, Didin adalah pustaka berjalan yang menyimpan sejarah tempat ini. Menurutnya, tradisi ini sudah ada sejak era 60-an, di mana dulu para pengrajin tak hanya memperbaiki sepatu, tetapi juga pelana kuda dan kalung untuk anjing atau domba aduan.

“Suasana dulu sangat berbeda, Pak. Ramai sekali. Dok-dak-dok-dak, suara palu berirama seperti orkestra trotoar. Deretan lapaknya memenuhi kiri kanan jalan, lebih dari 25 tukang sol sibuk bekerja,” kenangnya dengan sorot mata yang menerawang ke masa lalu.

Sunyi di Balik Ketukan Palu

Namun, orkestra itu kini hampir senyap. Dari puluhan lapak, kini tersisa kurang dari sepuluh tukang sol yang masih bertahan. Setiap ketukan palu mereka seakan berbisik tentang tantangan yang menghadang: budaya ‘pakai-buang’ dan banjirnya sepatu baru berharga murah.

“Lesu, tidak bisa dipungkiri. Dapat empat pelanggan dalam sehari saja sekarang sudah seperti rezeki nomplok. Rata-rata cuma satu atau dua,” keluh Ateng, salah satu tukang sol yang masih bertahan. Menurutnya, selisih harga yang tipis antara membeli baru dan memperbaiki menjadi penyebab utama. “Orang berpikir, untuk apa bayar Rp 75.000 – Rp 100.000 untuk ganti sol bawah, kalau tambah sedikit bisa dapat sepatu baru? Meski kualitasnya tentu jauh berbeda.”

Tarif jasa mereka sangat manusiawi. Menjahit jebol dihargai Rp 20.000 – Rp 30.000, sementara mengganti sol penuh berkisar antara Rp 75.000 – Rp 100.000—sebuah nilai yang jauh lebih murah daripada sepasang sepatu berkualitas baik.

“Kita sekarang cuma bertahan untuk makan sehari-hari dan uang jajan anak. Syukur Alhamdulillah. Pelanggan setia sekarang kebanyakan pemilik sepatu olahraga atau sepatu kulit mahal yang memang sayang untuk dibuang,” tambah Ateng.

Green Business yang Terlupakan: Pahlawan Lingkungan yang Tak Disadari

Di balik narasi lesunya bisnis ini, terselip sebuah ironi yang dalam. Dalam bahasa kekinian, profesi tukang sol adalah praktisi green business atau bisnis hijau tulen. Mereka adalah pahlawan lingkungan yang nyata, jauh sebelum konsep sustainable living dan circular economy menjadi tren di kalangan kaum urban.

Malby Abdul Rojak (33), seorang warga yang sedang memperbaiki sepatu futsal kesayangannya, dengan lugas menyadari nilai ini. “Ini sebenarnya bisnis yang sangat hijau. Kontribusi tukang sol terhadap lingkungan itu luar biasa besar. Mereka mencegah sepatu berakhir menjadi sampah yang sulit terurai,” ujarnya sambil menunjukkan sepatu berwarna hijau bermodel ‘macan lompat’ yang berhasil diselamatkannya dari tong sampah.

“Dengan hanya Rp 25.000, sepatu ini bisa dipakai lagi bertahun-tahun. Bayangkan berapa banyak sampah yang berkurang,” tandas Malby.

Denyut Nadi Ia pun mendesak pemerintah untuk membuka mata. “Dunia menggembor-gemborkan green life, green business. Nah, inilah contoh nyatanya! Kenapa tidak difasilitasi dengan lapak yang lebih layak atau dibantu permodalan?”

Optimisme dan Harapan dari Seorang Senior

Meski lesu, sang veteran, Didin, tidak kehilangan harapan. Baginya, selama masih ada sepatu berkualitas bagus di dunia, selama itu pula akan ada yang perlu diperbaiki.

“Apakah kami akan punah? Menurut saya tidak. Sepi, iya. Tapi hilang? Tidak mungkin. Orang masih banyak yang pakai sepatu-sepatu mahal. Mereka pasti butuh kami,” tegas Didin dengan keyakinan penuh.

Dia tak menampik bahwa kejayaan masa lalu sulit tergantikan. Di era 80-an, penghasilan Rp 5.000 sehari setara dengan hampir setengah gram emas. “Kalau dikonversi ke harga emas sekarang yang Rp 1,5 juta/gram, seharusnya saya bisa dapat Rp 750.000 sehari. Kenyataannya? Rp 200.000 – Rp 300.000 saja sudah susah,” ujarnya.

Namun, bagi Didin dan kawan-kawannya, ini bukan lagi sekadar soal uang. Ini tentang melestarikan sebuah keahlian, sebuah jahitan yang tak hanya menyambung sol sepatu, tetapi juga menyambung rantai memori dan keberlanjutan—jahitan yang menjaga agar langkah kita tidak hanya mengedepankan gaya, tetapi juga arti dari sebuah nilai.

Di sudut Sukawarni, mereka terus mengetok. Setiap ketukan adalah sebuah doa, sebuah harapan bahwa suatu saat nanti, masyarakat akan kembali memahami bahwa yang terbaik bukanlah yang baru, tetapi yang bisa diperbaiki, dirawat, dan dipertahankan.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.