Tasikmalaya, Ibu Kota Semasa Perang: Mengenal Jejak Gerilya Gubernur Sewaka yang Gigih
Tasikmalaya- Di balik kemeriahan Hari Ulang Tahun ke-80 Provinsi Jawa Barat tersimpan cerita-cerita heroik yang menjadi fondasi berdirinya provinsi ini. Balik Sejarah Tasikmalaya, Jawa Barat bukan hanya berjuang membangun identitas, tetapi juga bertarung mempertahankan nyawanya dari cengkeraman penjajah Belanda yang berusaha kembali. Dan dalam babak perlawanan yang penuh liku itu, Tasikmalaya mencatatkan namanya dengan tinta emas sebagai benteng terakhir pemerintahan, dipimpin oleh seorang gubernur yang gigih: Raden Mas Sewaka.
Baca Juga : Jalur Pantura Indramayu Viral, Warga Heboh Lihat Lumpur Muncul Tiba-tiba
Dari Bandung Lautan Api ke Pelukan Tasikmalaya
Rangkaian peristiwa heroik ini tidak dapat dipisahkan dari peristiwa monumental Bandung Lautan Api pada 23 Maret 1946. Kala itu, pasukan Belanda (NICA) memaksa pemerintah dan rakyat Indonesia untuk mengosongkan Kota Bandung. Namun, para pejuang dan masyarakat Bandung memilih jalan yang lebih berani: mereka membumihanguskan kota sendiri daripada menyerahkannya dalam keadaan utuh kepada penjajah.
Keputusan heroik ini memaksa pemerintahan Provinsi Jawa Barat, yang masih sangat belia, untuk mencari markas baru. Pilihan pun jatuh pada Tasikmalaya. Menurut Agung Ilham Setiadi, penulis buku ‘Bergerilya Bersama Sewaka, Mengenang Jejak Sang Penyelamat Jawa Barat’, pemilihan Tasikmalaya bukanlah tanpa alasan.
“Kondisi Tasikmalaya dianggap sangat mendukung. Fasilitasnya relatif lengkap jika dibandingkan dengan daerah lain saat itu, dan kondisi alamnya yang dikelilingi perbukitan serta gunung memberikan perlindungan strategis. Yang terpenting, militansi masyarakat Tasikmalaya untuk mempertahankan kemerdekaan sangat tinggi,” jelas Agung.
Bergerilya di Bawah Bayang-Bayang Tiga Kekuatan
Memimpin sebuah pemerintahan dalam pengungsian bukanlah tugas mudah. Situasi politik nasional, khususnya di Tasikmalaya, sangatlah rumit dan tidak menentu. Agung Ilham menggambarkan betapa pada masa itu, setidaknya ada tiga kekuatan politik besar yang saling tarik-menarik pengaruh di wilayah Tasikmalaya: pemerintahan sah di bawah Presiden Soekarno, kekuatan Belanda yang masih bercokol, dan gerakan DI/TII.
Ditambah lagi, dinamika politik pusat yang mengarah pada pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) memunculkan entitas Negara Pasundan yang didukung Belanda. Dalam pusaran konflik yang multi-dimensional inilah, Gubernur Sewaka harus memastikan bahwa bendera Provinsi Jawa Barat yang sah tetap berkibar.
“Kegigihan sosok Gubernur Sewaka ini benar-benar luar biasa. Bayangkan, ia harus memimpin dengan cara bergerilya, berpindah-pindah dari satu pelosok ke pelosok Tasikmalaya lainnya, hanya untuk mempertahankan eksistensi Provinsi Jawa Barat dari ancaman pembubaran,” tutur Agung dengan penuh apresiasi.
Jejak Langkah Sang Gubernur Gerilya
Melalui penelusuran sejarah yang mendalam, Agung Ilham berhasil merekonstruksi perjalanan gerilya Gubernur Sewaka. Awalnya, Sewaka dan rombongan menempati sebuah rumah sederhana di Lebaksiuh, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya. Di kampung yang tenang ini, pemerintahan darurat dijalankan selama kurang lebih tujuh bulan.
Seiring dengan meningkatnya operasi militer Belanda, posisi mereka terancam dan被迫 untuk berpindah. Setiap perpindahan adalah strategi untuk mengelabui musuh dan menjaga kelangsungan pemerintahan.
Sayangnya, perjuangan gerilya yang panjang itu harus berakhir pada Maret 1948. Dalam sebuah operasi, Belanda berhasil menangkap Gubernur Sewaka.
Warisan yang Abadi dalam Nama Jalan
Meski tertangkap, semangat dan pengorbanan Raden Mas Sewaka tidak pernah terlupakan. Untuk mengabadikan jasa-jasanya, nama beliau dijadikan nama salah satu jalan protokol utama Di Balik Sejarah Kota Tasikmalaya. Jalan Gubernur Sewaka bukan sekadar nama, melainkan sebuah monumen hidup yang menjadi penanda abadi bahwa di kota ini, pernah berkobar semangat juang tanpa henti untuk mempertahankan hak dan kedaulatan Jawa Barat.





