, ,

Fenomena Pupuk Subsidi Menumpuk Di Tasikmalaya Jelang Akhir Triwulan III 2025

Stok Melimpah, Serapan Rendah: Dinamika Pupuk Subsidi di Tasikmalaya Jelang Akhir 2025

Tasikmalaya- Sebuah fenomena unik terjadi di sektor pertanian Tasikmalaya. Menjelang akhir triwulan ketiga III 2025, gudang-gudang dan kios-kios pertanian di wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya justru dipenuhi oleh stok pupuk subsidi yang melimpah. Ironisnya, kelimpahan ini bukanlah pertanda baik, melainkan mencerminkan penyerapan atau realisasi penggunaan oleh petani yang masih sangat rendah, bahkan tidak mencapai separuh dari total alokasi yang telah direncanakan.

Fenomena Pupuk Subsidi Menumpuk Di Tasikmalaya Jelang Akhir Triwulan III 2025
Fenomena Pupuk Subsidi Menumpuk Di Tasikmalaya Jelang Akhir Triwulan III 2025

Baca Juga : Dinamika Politik Berakhir Agenda Substantif Pembangunan Dimulai

Berdasarkan data per 31 Agustus 2025, realitas penyerapan pupuk bersubsidi menunjukkan angka yang cukup mencengangkan. Di Kota Tasikmalaya, penyerapan baru menyentuh 24 persen, sementara di Kabupaten Tasikmalaya angkanya sedikit lebih tinggi, yakni 40 persen dari total alokasi dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Kondisi ini tentu memantik pertanyaan: apa yang sebenarnya terjadi dengan para petani di Tasikmalaya?

Karakteristik Pola Tanam, Bukan Masalah Produksi

Menanggapi kekhawatiran bahwa hal ini merupakan indikasi masalah dalam produksi atau distribusi, Ayi Mulyana, Asisten Account Eksekutif Pupuk Indonesia, memberikan penjelasan yang mencerahkan. Menurutnya, rendahnya penyerapan saat ini lebih disebabkan oleh karakteristik khusus petani di Tasikmalaya dan wilayah Priangan Timur secara umum, yang berbeda dengan daerah lain seperti Pantura.

“Karakter di Tasik atau Priangan Timur ini pola tanamnya tidak serempak. Jadi, kondisi saat ini tidak merata musim tanamnya. Penyerapan pupuk pun terjadi secara bertahap setiap bulan, tidak sekaligus seperti di daerah yang memiliki musim tanam serentak,” jelas Ayi.

Dengan pola tanam yang tidak seragam ini, justru menjamin ketersediaan stok pupuk selalu dalam kondisi aman. “Stok aman, di kios-kios tersedia. Kami telah mengatur sedemikian rupa untuk memastikan tidak terjadi kelangkaan,” tegasnya.

Stok Aman, Namun Harga Masih Jadi Tantangan

Di lapangan, meski ketersediaan stok terjamin, bukan berarti tidak ada masalah sama sekali. Abah Uyung, salah seorang petani di Tasikmalaya, menyoroti praktik pungutan liar yang masih terjadi di beberapa titik. Ia mencontohkan temuan di Kecamatan Taraju, di mana terdapat pengecer yang menjual pupuk subsidi dengan harga di atas Ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Alasannya macam-macam, ada yang bilang biaya administrasi atau karena lokasi yang jauh. Namun, yang menjadi persoalan, ketika diminta nota penjualan yang mencerminkan kenaikan tersebut, mereka tidak mau memberikan. Di nota tetap tercantum harga HET. Ini jelas merugikan kami,” keluh Uyung.

Menanggapi keluhan ini, Ayi Mulyana mengaku pihaknya telah mengambil langkah proaktif. “Untuk kasus di Taraju, saya sudah menanganinya. Kami mengumpulkan semua pihak terkait dan masalah tersebut telah diselesaikan,” ungkap Ayi. Ia menegaskan komitmen Pupuk Indonesia untuk mengawasi distribusi hingga tingkat pengecer guna mencegah praktik-praktik yang merugikan petani.

Data Stok: Jaminan untuk Musim Tanam Mendatang

Drikarsa, Officer Pendukung Penjualan Wilayah 1 Pupuk Indonesia, memaparkan data stok terkini per 18 September 2025 untuk memberikan gambaran yang lebih jelas. Total stok pupuk bersubsidi di Kabupaten Tasikmalaya mencapai 3.197 ton, yang terdiri dari 1.710 ton pupuk Urea dan 1.487 ton pupuk NPK. Sementara itu, untuk Kota Tasikmalaya, stok yang tersedia bahkan lebih besar, yakni 3.574 ton (996 ton Urea dan 2.361 ton NPK). Jika digabungkan, total stok untuk kedua wilayah tersebut mencapai 6.771 ton.

“Fenomena Ketersediaan stok yang melimpah ini merupakan hasil perencanaan matang kami sebagai produsen bersama dengan pemerintah. Ini menjadi jaminan untuk mendukung kegiatan pertanian ke depan,” timpal Dondon Try Laksono, Officer Hubungan Eksternal Pupuk Indonesia.

Drikarsa juga mengingatkan para petani untuk memanfaatkan pergeseran musim hujan yang diprediksi akan datang lebih awal. “Majunya musim hujan ini merupakan peluang emas bagi petani untuk mempercepat masa tanam. Langkah ini tidak hanya menguntungkan secara individu, tetapi juga berkontribusi besar dalam meningkatkan stok pangan nasional. Kami siap mendukung dengan menjaga ketersediaan pupuk,” pungkasnya.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.