Janji yang Menguap dan Ruang Kerja yang Disegel: Kemarahan 14 Tahun Warga Tasikmalaya Meledak di Kantor Bupati
Tasikmalaya- Empat belas tahun. Itu adalah waktu yang cukup untuk mengantar seorang anak dari bangku TK hingga ke perguruan tinggi. Namun, bagi warga Desa Baru Mekar, Kecamatan Parungponteng, Kabupaten Tasikmalaya, rentang waktu yang panjang itu hanya diisi oleh debu di musim kemarau dan kubangan lumpur di musim hujan. Jalan Cimanisan Warung Legok, yang seharusnya menjadi urat nadi penghubung kehidupan mereka, telah berubah menjadi medan yang menguji kesabaran dan merontokkan harga diri.

Baca Juga : Fenomena Pupuk Subsidi Menumpuk Di Tasikmalaya Jelang Akhir Triwulan III 2025
Pada hari ini, kesabaran yang selama bertahun-tahun menipis itu akhirnya menemukan bentuknya yang paling nyata dan dramatis. Aksi protes tidak lagi berpusat di jalan rusak yang mereka keluhkan, tetapi bergerak menuju jantung kekuasaan: Kantor Bupati Tasikmalaya. Di sana, sebuah aksi simbolis yang powerful dilakukan—Ruang Kerja Bupati Cecep Nurul Yakin disegel oleh rakyatnya sendiri.
Stiker putih bertuliskan “Disegel oleh Masyarakat” yang terpampang di pintu ruang kerja sang bupati bukanlah sekadar kertas. Itu adalah klimaks dari sebuah drama panjang pengabaian, sebuah teriakan bisu yang akhirnya mendapatkan suaranya. Aksi ini adalah puncak gunung es kekecewaan, yang dipicu oleh sebuah pertemuan yang gagal.
Harapan yang Pupus di Ruang Audiensi
Paginya, warga yang didampingi belasan mahasiswa datang dengan secercah harapan. Agenda mereka jelas: menagih janji perbaikan jalan yang terpendam selama 14 tahun. Mereka dijadwalkan untuk melakukan audiensi, sebuah kesempatan langka untuk berbicara hati ke hati dengan orang nomor satu di kabupaten mereka. Mereka membawa serta beban keluhan yang terakumulasi dari tahun ke tahun, berharap bisa menuangkannya langsung ke telinga sang pemimpin.
Namun, harapan itu rontok berantakan. Yang menyambut mereka di ruang audiensi bukanlah Bupati Cecep Nurul Yakin, melainkan kursi kosong. Dialog tetap berlangsung, tetapi hanya diwakili oleh Asisten Daerah (Asda) 3, Asep Gunadi. Bagi warga yang telah menempuh perjalanan jauh dengan membawa segudang harapan, ketidakhadiran bupati bukan sekadar kekecewaan, melainkan sebuah penghinaan halus. Pesannya jelas: urusan mereka tidak cukup penting untuk dihadiri langsung oleh sang pemimpin.
“Ini Soal Martabat, Bukan Hanya Aspal”
“Disegel, karena audiensi tadi tidak dihadiri oleh Bupati Tasikmalaya. Ini adalah puncak kekecewaan kami,” tegas Koordinator Lapangan, Farid Apepi, dengan suara lantang di hadapan para wartawan. Kata-katanya mencerminkan amarah yang telah matang.
Bagi Farid dan seluruh warga Baru Mekar, perjuangan ini telah melampaui sekadar permintaan perbaikan infrastruktur. Ini telah berubah menjadi perjuangan untuk pengakuan dan martabat. “Kami menuntut perbaikan jalan itu. Kami menuntut hak-hak kami yang selama 14 tahun seolah tidak pernah ada,” tambahnya. Ini adalah suara dari orang-orang yang merasa hak konstitusional mereka sebagai warga negara telah terabaikan.
Langkah Menghindar yang Memperdalam Luka
Ironi pun mencapai puncaknya. Di saat warga menuntut kehadiran dan perhatian, sang bupati justru memilih untuk absen untuk kedua kalinya. Usai aksi penyegelan, ketika para jurnalis berusaha mencari tanggapan, Bupati Cecep dilaporkan memilih keluar dari kantornya melalui pintu belakang. Langkah menghindar ini bagai garam yang ditabur di atas luka lama warga, semakin mengukuhkan citra seorang pemimpin yang jauh dan tidak mau mendengar.
Kini, ruang kerja bupati itu membisu. Stiker segel itu berdiri sebagai monumen pengingat bagi setiap orang yang melintas: bahwa ketika aspirasi dibiarkan menguap, ketika janji hanya menjadi kata-kata kosong, maka rakyat akan menemukan cara mereka sendiri untuk membuat suara mereka terdengar. Sementara sang bupati memilih diam, warga Parungponteng kembali ke rumah dengan jalan yang masih rusak, membawa serta satu pertanyaan mendasar:Â Berapa banyak lagi musim yang harus mereka lalui sebelum janji itu benar-benar ditepati, atau haruskah mereka kembali untuk “membuka segel” kepercayaan mereka dengan cara yang lebih keras?





