Bencana Longsor Isolasi Ribuan Warga di Tasikmalaya, Akses Vital Terputus
Tasikmalaya- Ribuan warga di empat desa di Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, terpaksa menghadapi kenyataan pahit: terisolasi dari dunia luar. Penyebabnya adalah bencana tanah longsor yang menghantam Blok Cikuda, Kampung Maleer, Desa Pusparaja. Material tanah, bebatuan, dan pepohonan yang runtuh menutup total sebuah ruas jalan kabupaten yang menjadi nadi penghubung utama.

Baca Juga : Panen Raya Di Tasikmalaya, Produksi Beras Organik Capai 5 Ton
Jalan yang biasa menjadi urat nadi perekonomian dan mobilitas warga antara Kecamatan Cigalontang dan Kecamatan Salawu itu kini terputus. Visual di lokasi memperlihatkan tumpukan tanah berwarna cokelat pekat membentang sepanjang kurang lebih 20 meter, dengan ketebalan material yang diperkirakan melebihi dua meter—setinggi sebuah rumah satu lantai.
Kondisi Darurat dan Peringatan Keras
“Laporan telah kami terima dan dikonfirmasi kebenarannya. Longsor di Cigalontang ini menutup jalan kabupaten sepanjang 20 meter,” tegas Ayatullah, Wakil Ketua Forum Koordinasi Tagana (Taruna Siaga Bencana) Kabupaten Tasikmalaya, saat dikonfirmasi.
Akibatnya, akses untuk semua jenis kendaraan, mulai dari sepeda motor hingga mobil, sama sekali tidak bisa melintas. Ayatullah juga mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat. “Kami imbau warga untuk sementara waktu tidak mendekati lokasi kejadian. Kondisi tanah di sekitar lokasi masih sangat labil dan berpotensi tinggi terjadi longsor susulan. Keselamatan adalah yang utama,” pesannya.
Dampak Berantai: Dari Ambulans hingga Pasar
Dampak dari bencana ini jauh lebih dalam sekadar terputusnya akses transportasi. Hendra Supriatna, perwakilan dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya, menjelaskan bahwa setidaknya empat desa merasakan dampak langsung: Pusparaja, Puspamukti, Nantang, dan Cigalontang.
“Ini adalah jalan utama menuju Ibu Kota Kecamatan dan juga jalur vital menuju Kabupaten Tasikmalaya. Ribuan warga di empat desa ini kini terkendala untuk beraktivitas,” ujar Hendra.
Aktivitas warga pun lumpuh. Akses menuju fasilitas kesehatan seperti Puskesmas dan rumah sakit, sekolah, serta pusat perekonomian seperti pasar, terpaksa tertunda. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran khususnya bagi warga yang membutuhkan penanganan medis darurat atau para pelajar yang harus menempuh pendidikan.
Upaya Penanganan dan Ujian Kesabaran Warga
Menanggapi keadaan darurat ini, BPBD telah bergerak cepat. “Tim kami telah turun ke lapangan untuk melakukan pemantauan dan assessment. Kami juga sedang berkoordinasi intensif dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk meminta bantuan alat berat,” jelas Hendra. “Kami berharap alat berat segera bisa diturunkan untuk mengevakuasi material longsor sehingga proses normalisasi jalan dapat dipercepat.”
Sementara menunggu jalan dibuka, warga harus menjalani ujian kesabaran dengan menempuh jalur alternatif yang berliku dan memakan waktu lebih lama. Fajar, salah seorang warga setempat, mengeluhkan dampak yang dirasakan.
“Jarak tempuh ke Singaparna yang biasanya hanya 13 kilometer, sekarang harus memutar menjadi 23 hingga 30 kilometer. Waktu tempuh bisa berkali-kali lipat,” keluhnya. Tidak hanya itu, bencana ini juga memutus aliran listrik dan mengganggu jaringan internet di wilayah tersebut, semakin menambah rasa terisolasi yang dirasakan warga. “Kami mengalami pemadaman listrik dan sinyal internet yang sangat sulit, membuat komunikasi dengan keluarga di luar menjadi terhambat.”
Sampai berita ini diturunkan, proses pembersihan material longsor masih menunggu kedatangan alat berat. Ribuan warga di empat desa tersebut masih harus bersabar, berharap akses kehidupan mereka yang terputus dapat segera dipulihkan.





