Dari Aliran Sungai Biasa Menuju Destinasi Primadona: Kalimalang Bekasi Menyongsong Transformasi Besar
Diskusi Tasikmalaya– Selama puluhan tahun, nama Kalimalang bagi warga Bekasi dan sekitarnya mungkin hanya lekat dengan bayangan sebuah saluran air yang membelah kota, lebih berfungsi sebagai urat nadi drainase dan irigasi daripada sebuah ruang publik. Namun, gambaran itu sebentar lagi akan tinggal kenangan. Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi, dengan dukungan penuh dari pemerintah provinsi dan swasta, sedang dalam proses mentransformasi aliran Kalimalang menjadi sebuah destinasi wisata air dan kuliner yang futuristik.
Suara Warga: Antara Antusiasme dan Kewaspadaan Lingkungan
Angel (33), salah seorang warga, menyuarakan hal yang mungkin dirasakan banyak orang tua muda di Bekasi. “Menarik lah, di sini belum ada karena kebanyakan di sini mal-mal ya,” ujarnya. Angel dan keluarganya harus rela menghabiskan waktu berjam-jam di jalan untuk merasakan wisata air, seperti pergi ke curug di Bogor atau pantai di Ancol, Jakarta Utara.
Di sisi lain, warga seperti Arya (26) menyambut baik inisiatif ini dengan catatan penting. Dukungannya tidak buta; ia mengingatkan agar pemerintah mempertimbangkan matang-matang dampak lingkungan. “Apabila itu dijadikan wisata air, bagaimana dampak-dampak lainnya yang dipikirkan, karena biasanya wisata menarik banyak orang. Ini bisa menimbulkan sampah dan perlu menjadi perhatian,” tuturnya. Kekhawatiran Arya sangat valid dan mencerminkan kesadaran lingkungan yang semakin tumbuh di masyarakat perkotaan. Keberhasilan proyek semacam ini tidak hanya diukur dari banyaknya pengunjung, tetapi juga dari keberlanjutannya dan dampaknya terhadap ekosistem sungai.
Bluprint Ambisius dengan Pendanaan Megah
Rencana Pemkot Bekasi bukan sekadar wacana. Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, telah memaparkan peta pendanaan yang sangat solid, menunjukkan keseriusan dalam mewujudkan proyek ini. Total dana yang dihimpun untuk fase awal ini mencapai Rp 126 miliar, sebuah angka yang tidak main-main.

Baca Juga: Pagi yang Menjadi Saksi Bisu Lokasi Penemuan Mayat Ilham Gambarkan Kekejaman Pelaku
Dana tersebut bersumber dari tiga pihak:
-
PT Mizu (Swasta): Memberikan dana Corporate Social Responsibility (CSR) senilai Rp 36 miliar. Keterlibatan swasta melalui CSR menunjukkan adanya minat dunia usaha untuk berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur publik.
-
Pemkot Bekasi: Menyiapkan anggaran tambahan sebesar Rp 30 miliar yang khusus dialokasikan untuk membangun pedestrian atau jalur pejalan kaki. Ini menunjukkan komitmen untuk menciptakan area yang nyaman bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda.
-
Pemerintah Provinsi Jawa Barat: Menyuntikkan dana tambahan terbesar, yaitu Rp 60 miliar. Dukungan dari level provinsi memperkuat posisi proyek ini sebagai destinasi wisata yang signifikan secara regional.
Dalam pidatonya di bantaran Kalimalang, Wali Kota Tri Adhianto menyampaikan target yang optimis. “Mudah-mudahan sisa pembangunannya bisa sampai ke Kota Bintang dan selesai tahun depan,” ujarnya.
Tantangan dan Harapan: Menjaga Kalimalang di Masa Depan
Transformasi Kalimalang bukan tanpa tantangan. Proyek sebesar ini harus dikelola dengan prinsip-prinsip berkelanjutan.
-
Pengelolaan Sampah: Kekhawatiran Arya tentang sampah adalah tantangan utama. Diperlukan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, penempatan tempat sampah yang memadai, larangan keras terhadap penggunaan plastik sekali pakai di kawasan wisata, dan kampanye kesadaran bagi pengunjung.
-
Kualitas Air: Wisata air akan kehilangan daya tariknya jika kualitas air sungai buruk. Program pembersihan sungai secara berkala dan pencegahan pembuangan limbah ke sungai harus menjadi prioritas berkelanjutan, bahkan sebelum proyek dimulai.
-
Dampak Sosial dan Ekonomi: Keberadaan destinasi wisata baru akan menggerakkan ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja baru bagi pedagang kecil dan usaha mikro di sekitarnya. Namun, perlu juga diantisipasi dampak seperti kepadatan lalu lintas dan kenaikan harga di sekitar kawasan. Pemerintah harus memastikan bahwa masyarakat sekitar mendapat manfaat yang signifikan.
Sebuah Nafas Baru untuk Bekasi
Proyek penyulapan Kalimalang ini lebih dari sekadar pembangunan infrastruktur; ini adalah tentang mengubah mindset dan memberikan nafas baru bagi kota. Ini adalah upaya untuk mengembalikan sungai kepada masyarakat, mengubahnya dari sekedar aliran di belakang rumah menjadi ruang hidup, ruang interaksi, dan ruang membuat kenangan.
Sebuah tempat di mana warga tidak perlu lagi jauh-jauh ke Bogor atau Ancol hanya untuk menikmati segarnya wisata air. Sebuah jawaban atas keluhan, “Di Bekasi cuma ada mal,” dan sebuah langkah maju menuju kota yang lebih layak huni, hijau, dan menyenangkan bagi semua warganya.





